Sekian lama kami berpasangan, ngga pernah sekalipun saya di perkenalkan ke dunianya bahkan untuk hal sepele posting di media sosial apapun. Sepele tapi ada dampak besar buat si manusia super insecure ini, Call me bocil, haus pengakuan, dan perhitungan. Karena memang iya. Tapi itu bukannya hal yang simple things to do ya? Tidak memerlukan effort apalagi biaya apa-apa.
Awalnya saya menghargai ketidakmauan beliau, namun makin kesana makin kesini saya mulai merasa kalau ada banyak hati yang dijaga, atau memang sayanya aja yang tak selayak itu untuk diperkenalkan ke dunianya? Keduanya mungkin benar. Dan untuk saat ini setelah rentetan kejadian plot twist yang semesta kasih unjuk ke saya, faktanya semua itu benar. Saya gak pernah sekalipun membuat dirinya jatuh suka dengan saya bahkan untuk jatuh cinta dan bangga memiliki pun tidak?
Setelah semua yang saya berikan, apa yang saya dapat? Selain luka di hati yang tak kunjung sembuh, trauma luar biasa, dan rasa insecure yang semakin tinggi. Bodoh memang bodoh. Terlalu cinta itu ngga baik, apalagi yang dicinta itu 0 effort 0 bare minimum dan ngga sadar diri. Saya hanya minta dijadikan satu-satunya sebagai pasangan, disayangi, di support, dan dicintai dengan tulus kok. Ngga papa kalau saya gak pernah dapat buket bunga yang saya suka, meski harganya lebih murah dari harga sebungkus rokok yang dibakar setiap waktu. Ngga papa kalau saya jadi manusia paling available, sedangkan dia ada aja alasan yang terucap.
Setelah hubungan kami usai karena ketololan beliau, saya menyimpulkan banyaknya fakta-fakta yang muncul sendiri tanpa saya pinta. Sialan, saya tidak seberharga itu di matanya selama ini. Entah saya ini apa, tiba-tiba saja saya merasa saya ini hanya mainan dan peneman sepi. Bukan pilihan apalagi tambatan hati. Bahkan mungkin ga akan pernah jadi pilihan. Benci ya? Malah menjadi pilihan oleh orang yang kita jadikan tujuan dan doakan disetiap sepertiga malam.
Dan saya ngga akan pernah mau dijadikan pilihan atas ketidakyakinan dia pada diri saya. Ambil saya dengan penuh berani. Atau tinggalkan saya tanpa perlu sok memberikan bagaimana rasa jatuh cinta itu dan rasa disayangi yang at the end semuanya itu hanya semu dan akal bulus belaka. Hanya dia dan khodamnya deh yang tau, apasih yang dicari?
Long story short, hingga di hubungan dia berikutnya, dengan leluasa memperkenalkan wanita baru yang bahkan saat itu masih dengan saya ke dunianya dengan rasa bangga dan memberikan segala yang pernah saya pinta pun ke wanita barunya. Iri? Iya Marah? Luar biasa, tapi bisa apa? Setelah semuanya? Setelah ratusan usaha yang selalu saya usahakan, setelah pengorbanan yang persetan mana peduli dia? Sungguh sialan bukan? Sungguh sialan kenapa saya dulu bisa jatuh cinta ke manusia yang jelas-jelas ngga ada rasa sama sekali.
Amarah soal hal yang terlihat sepele itu masih berapi-api di hati saya. Entah akan dipadamkan dengan apa. Tapi rasa sesaknya sesekali masih ada sampai saat ini. Ngga mau mikir kurang saya dimana, ngga. Saya sudah kasih versi terbaiknya saya yang ga semua orang dapat privilege itu dan saya sudah treat dia sebaik mungkin, jadi yang rugi bukan saya. Tapi serius, ga selayak itu ya saya buat dapat rasa sayang, cinta tulus, rasa aman, dan diperjuangkan balik?
Berusaha ambil sisi positif, kalau Tuhan menjauhkan saya dari hal yang tidak baik, dari hal yang memang bukan untuk saya. Mungkin sayanya terlalu naif. Dan lagi terlalu bodoh, bodoh sekali untuk percaya setiap ucapan dan ketikan dari seorang manusia yang saya taruh harapan besar. Ya fatal. Kenapa saya berharap pada manusia? Sedangkan manusia itu pusatnya kecewa. Pun saya berharap besar pada diri saya sendiri, agar bisa sembuh dan pulih. Soal ikhlas dan memaafkan ngga usahlah dibahas. Karena saya dititik terlukanya harga diri. Memaafkan iya, lupa? Ngga akan.
Semoga semua yang pernah menyakiti saya bahagia selalu, dan semoga dunia ngga menjadi kejam mengingat hukum dunia adalah tabur tuai.
At the end, life must go on, Masih banyak cita-cita saya yang harus dikejar. Persetan dengan siapa dia sekarang dan seberapa banyak yang disimpan. Faktanya, dia ngga akan pernah sembuh. Selama dia ngga pernah bersyukur dan ngerasa cukup.
Semoga saya menjadi lebih bijak dan belajar olah emosi yang ngga perlu, dan lebih bahagia setelah ini.
xx,
Komentar
Posting Komentar